Monumen Illegal Fishing di Pantai Pangandaran

Maaf Mba, batu-batu itu nggak boleh dibawa pulang, nanti bisa kesurupan. Kemarin ada orang dari Bandung kesurupan setelah mengambil batu dari sini, kata tukang perahu kepada salah seorang perempuan setengah baya.

Gunung Prau Dieng Suguhkan Pesona Kahyangan

“Bangun,… bangun…, ayo bangun kalau kepengen melihat pamandangan bagus! Udah jauh-jauh bayar. Kalau mau numpang tidur jangan di sini, di rumah nenek saja!,” begitu teriak salah satu petugas (ranger) ketika menjelang subuh.

Menyaksikan Pohon 'Berdarah' di hutan Gunung Halimun

Ketika bedog (golok) itu digoreskan sedikit saja ke kulitnya. Cairan berwarna merah darah itu membuai keluar. Seketika kami terpana melihatnya. Sambil menatap ujung jari telunjuk sang pemandu yang mencolek lelehan cairan itu.

Menikmati Cakrawala Biru di Laut Batu Hiu

“Bulan di Batu Hiu” adalah sebuah judul lagu pop Sunda. Mengisahkan sebuah janji cinta. Disaksikan bulan purnama dikeindahan Batu Hiu. Dari keindahan Batu Hiu itulah telah menginspirasi Doel Sumbang dalam mencipta.

Hari Kartini di Gunung Gede

Lagu Indonesia Raya pun bergema ketika ratusan pencinta alam memperingati hari Kartini di lembah Gunung Gede-Pangrango. Terasa haru, sebuah rasa nasionalisme yang patut ditiru oleh semua penduduk negeri ini.

Tuesday, 18 April 2017

Memupuk Kebersamaan di ‘Negeri Laskar Pelangi’ Belitung

Seluruh penumpang perahu berteriak histeris. Ketika gulungan ombak laut menerjang dan mengombang ambing tiga perahu yang membawa rombongan kami menuju Pulau Lengkuas, Belitung.



.
Itulah sepenggal pengalaman menegangkan yang memacu adrenalin. Ketika kami mengikuti wisata gathering Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Yang diikuti oleh staf dan karyawan serta jajaran direksi IAI di Pulau Belitung beberapa waktu lalu. Sebuah acara gathering dengan thema: “Kejayaan Akuntan Profesional, Kejayaan Negeri”— dikemas santai sambil berwisata. Bertujuan untuk lebih meningkatkan kinerja dan memupuk kerbersamaan yang sudah terbina dengan baik selama ini.

Mengawali pemberangkatan pada hari Jumat pagi sekitar pulul 6.00 WIB, dari bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pesawat Boeing 737-800 lepas landas membawa rombongan kami menuju Tanjung Pandan, Pulau Belitung. Penerbangan hanya butuh waktu sekitar 50 menit. Pesawat pun tiba di bandara  Internasional H. Ishanoedin.

Begitu tiba di bandara. Raut wajah teman-teman terlihat ceria. Sesekali terlontar candaan dan guyonan. Sepertinya mereka tidak sabar ingin cepat-cepat mengunjungi tempat-tempat wisata di Belitung. Kami disambut oleh empat orang pemandu wisata dari sebuah jasa travel. Mereka itulah yang mendampingi kami selama tiga hari berkunjung di Belitung.



Sekitar pukul 7.00 WIB. Dua bus berukuran sedang langsung membawa rombongan kami menuju pusat kota Tanjung Pandan untuk menikmati kuliner. Hanya butuh waktu sekitar setengah jam, bus pun berhenti tepat di depan sebuah ruko berlantai dua. Lokasinya tidak jauh dari putaran tugu Batu Kalam. Tampak di ruko itu terpampang sebuah tulisan “Mie Belitung  Atep”.

Selidik mengenai  keberadaan Mie Atep, ternyata sudah banyak dikenal khususnya di kalangan penikmat wisata kuliner. Begitu populernya keberadaan Mie Atep. Mungkin bisa dilihat ketika masuk ke dalam bangunannya. Di dindingnya banyak terpampang deretan foto-foto orang beken yang pernah datang ke warung mie itu. Mulai dari politikus, pejabat dan artis-artis ibukota. Misalnya, ada foto mantan Presiden RI ke 5, Ibu Megawati  Sukarno Putri bersama Puan Maharani. Ada juga dari kalangan artis, seperti Meriam Bellina, Tukul Arwana, dan lain-lain.

Jika melihat tampilannya mie atep biasa saja, tidak ada hal yang istimewa. Terdiri dari mie kuning dengan sedikit potongan mentimun dan kuah. Porsinya pun tidak terlalu banyak. Untuk yang biasa makan banyak harus nambah porsi. Mungkin yang menjadi keunggulannya adalah punya rasa yang khas, itu memang relatif. Nah, agar tidak penasaran jika kebetulan Anda sedang jalan-jalan ke kota Belitung silakan mampir dan mencobanya.




Selesai menikmati mie atep. Kami langsung meluncur menuju ke obyek wisata Pantai Tanjung Tinggi yang berada di Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Obyek wisata itu berjarak sekitar 37 Km dari pusat Tanjung Pandan. Dalam perjalanan itu dua bus yang membawa rombongan teman-teman IAI tidak menemui kemacetan, alias lancar.

Di pagi itu cuaca cerah, suasana kota begitu tenang. Yang sedikit mengherankan di kota itu adalah tidak meihat adanya lalu lalang angkutan kota. Seperti umumnya di kota-kota Pulau Jawa. Menurut keterangan guide, di kota itu tidak ada angkutan kota. Yang ada hanya bus antar kota kabupaten, itu pun sedikit sekali. Penduduk di kedua kota itu jika ingin bepergian lebih banyak menggunakan sepeda motor.



Tidak berapa lama kami tiba di Pantai Tanjung Tinggi. Salah satu destinasi wisata favorit di Belitung. Suasana pantai masih tampak sepi. Tidak terlihat lalu lalang kehadiran pengunjung. Hanya tampak beberapa pedagang yang mangkal di bawah pepohonan rindang.

Dari lapangan areal parkir keindahan Pantai Tanjung Tinggi belum terlihat nyata. Rimbun pohon-pohon itu sedikit menyamarkan pandangan. Tetapi setelah mendekati bebatuan, keindahan mulai tampak. Apalagi setelah masuk ke celah-celah batu-batu itu pemandangannya sungguh mengagumkan.


Ukuran batu-batu granit itu mulai dari beberapa meter kubik-- hingga ratusan meter kubik --lebih besar dari sebuah rumah. Bongkahan granit itu menyebar dan bertumpuk-tumpuk seperti sengaja disusun menjadikan pemandangan indah. Sungguh sebuah anugrah. Alam telah menatanya, ribuan atau mungkin  jutaan tahun lamanya atas kuasa-Nya Tuhan.

Keunggulan Pantai Tanjung Tinggi akan semakin terlihat pesonanya, manakala kita berdiri di atas batu-batu itu. Mata kita akan disuguhi pemandangan bentangan pantai dengan batu-batu sebagai hiasannya. Bagi yang hobi berburu fotografi banyak spot-spot menarik. Bisa dari celah batu, atau dari atas batu. Cuma ketika akan naik harus hati-hati agar tidak terpeleset jatuh ke laut.


Karena pesona kecantikannya merupakan daya tarik dari pantai itu. Tidak heran obyek wisata Tanjung Tinggi pernah dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi. Bahkan banyak yang menyebut sebagai Pantai Laskar Pelangi. Hamparan pasir putih dan air laut yang berwarna hijau kebiruan di sekitar pantai semakin menambah pesona kecantikan Pantai Tanjung Tinggi. Walaupun ketika itu di pinggiran pantai banyak sampah yang terbawa tiupan angin. Tetapi tidak menghilangkan pesona pantai itu.

Sayang di Pantai Tanjung Tinggi kami tidak bisa berlama-lama. Karena masih ada tempat lain yang akan dituju. Rombongan kami harus melanjutkan perjalanan ke Kampong Dedaun dan Tanjung Kelayang. Akhirnya kami pun meninggalkan pantai itu. Sedangkan sebagian teman-teman yang muslim terlebih dahulu menunaikan ibadah shalat Jumat.


Setelah kami semua berkumpul di Kampong Dedaun. Kami makan siang bersama, dengan hidangan aneka menu olahan ikan laut. Tempatnya terbuka, sehingga kami bisa makan sambil melihat panorama pantai dengan rindang pepohonan. Tentu hal ini semakin menambah selera makan. Di Kampong Dedaun itu juga dilengkapi dengan fasilitas gazebo, kursi santai sun lounger, sewa sepeda dan perahu kayak.

Sehabis makan siang kami istirahat sejenak. Setelah itu, panitia yang masih dari teman-teman IAI mengadakan permainan, game ringan. Walaupun dilakuan sederhana dengan suasana santai tetapi cukup seru juga. Dalam permainan itu seluruh peserta ikut serta tanpa terkecuali dengan jajaran direksi mereka sama-sama berbagi keseruan dalam kebersamaan.


Selesai acara permainan kami rehat sebentar. Dan kembali melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Kelayang. Pantai Tanjung Kelayang ini adalah pantai kedua yang terkenal setelah Pantai Tanjung Tinggi. Yang khas dari pantai ini adalah Batu Kelayang yang merupakan maskot dari Sail Wakatobi – Belitung 2011.  Pantai Tanjung Kelayang terdiri dari dua bagian, yaitu sebelah barat dengan gugusan batu granit dan sebelah timur berupa hamparan pasir putih nan cantik.

Di Pantai Tanjung Kelayang itu pada awalnya kami ingin mencoba berenang. Atau snorkeling melihat-lihat pemandangan bawah laut. Tetapi sayang keadaanya tidak memungkinkan. Karena kondisi laut kurang  bersahabat. Ketika itu permukaan air laut sedang naik disertai tiupan angin sangat kencang. Sehingga menimbulkan gelombang ombak yang tinggi. Jadi tidak memungkinkan untuk berenang atau snorkeling karena berbahaya.

Sedikit kecewa tidak merasakan eloknya Pantai Tanjung Kelayang. Melihat kondisi demikian, pemandu mengajak kami ke Tanjung Binga untuk ‘berburu’ sunset. Tanjung Binga, adalah sebuah perkampungan nelayan yang terletak di Desa Binga, Kecamatan Sijuk. Dari Tanjung Binga ini  merupakan tempat ideal untuk menyaksikan panorama matahari terbenam.


Hari semakin sore sebentar lagi siang akan berganti malam. Di Tanjung Binga sebagian teman-teman sudah siap-siap menyaksikan sunset. Dengan duduk di atas bongkahan batu-batu granit. Sambil melihat pemandangan laut dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Namun apa boleh buat setelah sabar menunggu, kami pun harus gigit jari. Awan kehitaman hadir. Lambat laun menyamarkan pandangan. Sekaligus memupus harapan untuk melihat keindahan tenggelamnya sang Batara Surya. Keadaannya yang tidak memungkinkan, kami pun memutuskan pulang ke hotel.

Di hari kedua, Sabtu pagi. Kota Tanjung Pandan keadaan cuaca begitu cerah. Mungkin hal ini pertanda baik. Karena  ada harapan bisa menyeberang ke pulau Lengkuas. Setelah sarapan pagi. Kami siap-siap jalan-jalan lagi di ‘Negeri Laskar Pelangi’ itu. Rencananya untuk ‘acara basah-basahan’, melanjutkan berenang atau snorkeling di Pulau Lengkuas. Sekitar pukul 9.00 WIB pagi, rombongan kami berangkat meninggalkan penginapan.

Kami pun kembali ke Desa Binga untuk naik perahu ke Pulau Lengkuas. Karena menyeberang dari Tanjung Binga relatif lebih dekat. Waktu tempuh sekitar 30 menit. Sedangkan dari Tanjung Kelayang bisa mencapai 60 menit. Tetapi setelah tiba di lokasi. Lagi-lagi untuk kali kedua kami dibuat kecewa. Ombak laut ternyata masih cukup tinggi. Kami gagal menyeberang ke pulau Lengkuas. Abang tukang perahu pun tidak berani menyeberangkannya.


Memang pada bulan Februari itu, karena faktor cuaca. Sebagian besar perairan laut Indonesia, gelombangnya sedang mengalami kenaikan. Tidak mau mengambil risiko. Akhirnya kami sepakat menunda kunjungan ke Pulau Lengkuas. Dan mengalihkan tujuan ke Pantai Nyiur Melambai yang terletak di Desa Lalang, Kecamatan Manggar, Belitung Timur.  Sekitar pukul 12.00 WIB  rombongan kami tiba di pantai yang banyak ditumbuhi jejeran pohon pinus itu.

Pantai yang berada di ujung timur pulau Belitung itu, ternyata cukup landai dan airnya tenang. Pantainya panjang dengan hamparan pasir putih halus cukup menarik. Ombak laut pun seperti sebagai garis pembatas yang hanya terlihat jauh dari bibir pantai. Sehingga aman untuk berenang walaupun agak ke tengah. Keadaan ini sangat berbeda dengan laut di sebelah utara pulau Belitung.
Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh sebagian teman-teman. Untuk mandi dan bermain pasir, serta berfoto ria. Walaupun panas sinar matahari cukup menyengat kulit tubuh. Tetapi tidak menyurutkan keceriaan. Pantai Nyiur Melambai sedikit telah mengobati rindu sebagian teman-teman bermain-bermain dengan pasir dan mandi di laut.

Dari Pantai Nyiur Melambai kami mampir ke SD Muhamadiyah, tempat shoting film Laskar Pelangi. Dan menyambangi Rumah Keong yang berada di seberangnya. Kedua tempat itu lokasinya berada di Kampung Gantong, Desa Lenggang, Kecamatan Mandar, Kabupaten Belitung Timur.

Di Tengah Laut yang Menegangkan  
Berlanjut di hari terakhir di Belitung. Minggu pagi sekitar pukul 7.00 WIB selesai sarapan, rombongan IAI cek out dari hotel dan langsung menuju ke Pulau Lengkuas. Karena sudah dua kali rencana ke Pulau Lengkuas batal disebabkan kendala gelombang air laut tinggi.  Sebelum kembali ke Jakarta, berharap pada hari itu menyeberang ke Pulau Lengkuas bisa terlaksana. Rasanya kurang afdol apabila ke Belitung tidak mengunjungi Pulau Lengkuas.

Kira-kira  pukul 8.00 WIB kami tiba di Tanjung Binga. Keadaan laut agak mendingan dibanding dua hari sebelumnya. Tetapi gelombangnya masih harus diwaspadai, karena tiupan angin masih kencang.
Sebelum naik ke perahu, kami diharuskan memakai rompi pelampung sebagai standar minimal untuk berjaga-jaga. Dibutuhkan tiga perahu untuk membawa rombongan kami ke Pulau Lengkuas. Untuk menjaga keamanan, masing-masing perahu dibatasi hanya mengangkut  tidak lebih dari 20 orang.
Ketika naik ke atas perahu pun, kami harus sedikit repot. Karena perahu itu terus bergoyang oleh hantaman gelombang. Tetapi akhirnya kami semua bisa meninggalkan bibir pantai Tanjung Binga, dan menuju ke Pulau Lengkuas.

Selepas pantai Tanjung Binga, keadaan air laut masih cukup bersahabat. Tampak sorak-sorai riang teman-teman silih berganti dari tiga perahu itu. Tetapi semakin ke tengah, gelombang semakin besar. Tiupan angin semakin kencang. Gulungan ombak tinggi mengombang-ambing tiga perahu kami. Terkadang perahu yang ditumpangi teman lain, hilang dari pandangan. Seolah lenyap ditelan gulungan ombak.

Keadaan seketika berubah. Samar terdengar teriakan histeris dari teman-teman. Entah takut atau gembira bercampur dengan suara gemuruh gelombang laut. Bahkan teman-teman yang duduk di depan harus basah kuyup terkena cipratan air laut. Sementa deru suara mesin kapal seolah mengeluh keberatan untuk melewati kuatnya terjangan ombak laut Belitung. Kami hanya bisa berdoa minta keselamatan, hanya itu yang kami bisa ketika itu.





Pelan-pelan gulungan ombak tinggi itu bisa dilewati. Tampak jejeran pohon nyiur daunnya melambai-lambai, seolah menyambut kehadiran kami di Pulau Lengkuas. Terlihat juga mercusuar menjulang tinggi. Berdiri angkuh seolah sedang menyaksikan rombongan IAI yang sedang berjuang melawan rasa takut di tengah laut. Berkat doa dan kesigapan pengemudi perahu. Sehingga ketiga perahu itu pun bisa melepas jangkar  di pinggir pantai Pulau Lengkuas.

Ketegangan dan rasa takut pun sirna, berubah menjadi sukacita. Terbayarkan dengan bisa menikmati kemolekan Pulau Lengkuas. Pulau dengan luas kurang dari satu hektar itu sungguh memesona. Struktur batu-batu granitnya unik, berbeda dengan tempat-tempat lain.  Dengan kombinasi pantai yang berpasir putih dan pepohonan.

Ciri dari pulau itu adalah adanya mercucuar setinggi 70 meter dengan 18 lantai. Dibangun pada zaman penjajahan Belanda tahun 1882. Sensasi lain yang menarik, yaitu jika melihat pemandangan dari atas menara. Panorama gugusan pulau-pulau kecil  seputar Pulau Lengkuas akan terlihat indah dengan batu-batu granitnya.

Sayang sekali kami tidak bisa menikmati keindahan pulau itu berlama-lama. Sebab sekitar pukul 12.00 WIB rombongan IAI harus sudah berada di bandara H. Ishanoedin, untuk siap-siap kembali ke Jakarta. Walapun demikian, bisa terlaksananya berkunjung ke Pulau Lengkuas bagi kami cukup menyenangkan.


Kami pun kembali pulang ke Tanjung Binga. Deru suara mesin perahu itu pun mengiringi perjalanan kami meninggalkan Pulau Lengkuas. Bersyukur dalam perjalanan  pulang ombak tidak sebesar ketika berangkat. Sehingga kami semua bisa menikmati pemandangan gugusan pulau-pulu kecil yang dilalui dengan tenang.

Tiba kembali di daratan Desa Binga. Kami langsung bersih-bersih badan dan dilanjutkan makan siang bersama. Setelah rehat sebentar, rombongan kami meninggalkan desa nelayan itu. Sebelum ke bandara kami sempat melihat-lihat ke obyek wisata Danau Koalin. Sebuah danau bekas pertambangan yang sudah ditutup. Cukup menarik juga, airnya berwarna biru dengan hamparan pasir putih.

Kira-kira pukul 12.00 WIB rombongan IAI tiba di bandara H. Ishanoedin. Dan sekitar pukul pukul 01.00 WIB, kami meninggalkan Pulau Belitung, kembali Jakarta. Sebuah acara gathering sambil jalan-jalan santai. Telah membawa kesan dan pesan menarik, tentang makna kebersamaan. Mudah-mudahan kebersamaan itu tetap utuh. Semoga!

foto: Widodo, Arif, Sanudd, Mhenk, Aja

Sunday, 1 January 2017

Karang Tawulan Anugrah Tersembunyi

Dari seberang pantai, di atas batu karang burung-burung camar berputar-putar bersahutan seolah menyambut para pengunjung Taman Karang Tawulan. Diiringi sorak gemuruh ombak samudra menerjang kokohnya batu karang di pantai Selatan pulau Jawa.

Jika Anda kebetulan sedang liburan ke Tasikmalaya bagian selatan, tidak salahnya mampir menikmati panorama objekwisata pantai Karang Tawulan. Memang, lokasi tersebut kurang dikenal di masyarakat  karena minimnya promosi.


zonsrumere.blogspot.com
Untuk menuju ke objek wisata tersebut bisa menggunakan rute Tasikmalaya-Singaparna-Cipatujah. Di sepanjang perjalanan ini Anda akan disuguhi panorama wisata Pantai Sindangkerta, Cipatujah, Pamayangsari, dan berakhir di KarangTawulan, Kalapagenep.

Karang Tawulan terletak di desa Kalapagenep, kecamatan Cikalong. Dari Kota Tasikmalaya kira-kira 90 km. Bagi yang tidak membawa kendaraan dapat menggunakan angkutan jurusan Singaparna-Cipatujah berakhir di ujung pantai Karang Tawulan.

Bisa juga ambil rute dari arah Pangandaran, menuju Parigi, Cijulang menuju arah Cikalong, Tasikmalaya Selatan. Waktu tempuh kira-kira dua jam dengan kondisi jalan mulus agak berliku. Di jalur ini Anda akan melewati banyak tempat wisata yang sudah banyak dikenal masyarakat. Misalnya, Batu Hiu, Batu Karas, wisata sungai  Cukang Taneuh (Green Canyon), curug Situmang, Sinjang Lawang dan lain-lain.

Karang Tawulan, bisa disebut anugrah yang tersembunyi. Mengingat taman batu karang tersebut lokasinya berada di balik bukit sedikit tersembunyi dari jalan raya. Tepatnya berada dekat di sebuah muara sungai. Jadi bagi traveler yang belum pernah ke obyek wisata ini harus sedikit memperlambat laju kendaraan apabila sudah sampai di Desa Kalapagenep. 

Tiket masuk cukup terjangkau, untuk sepeda motor plus orang Rp2,500, sedangkan kendaraan roda empat Rp10,000 plus orang.  Tidak hanya itu bagi pecinta kuliner banyak pilihan makanan siap memanjakan lidah  dan perut dari rasa lapar. Dengan panorama alam pedesaan yang masih alami.


Di pantai Karang Tawulan Anda akan disuguhi keindahan panorama laut selatan. Tak jauh dari bibir pantai terdapat sebuah nusa disebut juga dengan nusa manuk. Sebab di nusa yang masih alami itu banyak dihuni burung-burung camar yang bersarang di tempat tersebut.

Menurut Maman (50), warga asli penduduk setempat -- sekarang sudah hijrah ke Bekasi -- dahulu ketika remaja ia sering berenang menyeberang ke nusa tersebut untuk mengambil sarang burung walet untuk dijual. Walaupun harus berjuang taruhan nyawa menaklukkan ganasnya ombak laut selatan.  Tetapi sekarang katanya sudah jarang, mungkin karena sarangnya sudah sedikit. Jika beruntung dan kebetulan air laut surut di taman seluas 20 hektar itu akan dijumpai ikan hias dan satwa langka penyu hijau. 

Para pengunjung yang akan turun ke pinggir pantai bisa menuruni anak tangga. Sedangkan bagi yang ingin berenang disarankan untuk berenang di tempat landai terletak sebelah timur batu karang. Atau bisa juga dekat muara apalagi jika air sedang surut, lokasi ini sangat menarik juga. Tetapi Anda harus tetap hati-hati mengingat ombak pantai selatan cukup besar, jadi harus tetap waspada.

Menjelang sore, apabila cuaca baik di sebelah barat dari atas batu karang Anda dapat menikmati panorama sinar lembayung merah kekuningan. Seolah mengantarkan tenggelamnya matahari ditelan samudra luas.


pramabergawa.blogspot.com
Di areal taman Karang Tawulan banyak pilihan warung makan yang menjajakan berbagai hidangan. Tentunya dengan harga terjangkau dibanding di tempat wisata lain. Nah, bagi pecinta alam dan yang hobi traveling tidak ada salahnya silahkan mencoba mengunjugi Karang Tawulan. Dengan suasana pemandangan pantai batu karang yang masih alami. 

Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberikan sedikit informasi bagi masyarakat. Sehingga bisa mengangkat pamor objek wisata tersebut dan sekaligus ikut mendongkrak perekonomian di pedesaan.


Thursday, 22 December 2016

Monumen Illegal Fishing di Pantai Pangandaran

 “Maaf Mba, batu-batu itu nggak boleh dibawa pulang, nanti bisa kesurupan. Kemarin ada orang dari Bandung kesurupan setelah mengambil batu dari sini,” kata tukang perahu kepada salah seorang perempuan setengah baya.



Memang, kejadian itu sudah lama terjadi. Yaitu pada hari kedua Idul Fitri 1437 H yang lalu.  Ketika kami sedang melihat kapal illegal fishing di pantai Pasir Putih, Pangandaran, Jawa Barat. Tetapi tidak ada salahnya untuk berbagi cerita kepada sesama.

Sebelum ke pantai Pangandaran, kami sempat mengunjungi Batu Hiu. Yang berjarak sekitar 14 km dari Pangandaran. Karena hari masih siang dan cuaca cerah, maka kami putuskan mengunjungi pantai Pangandaran. Bagi saya entah yang keberapa kali datang ke pantai itu. Tetapi tak pernah bosan. Daya tarik pantai Pangandaran selalu membuat penasaran untuk dikunjungi.

Pada hari itu pengunjung yang mau liburan ke pantai Pangandaran sudah ramai. Hal itu terlihat antrian kendaraan memadati pintu gerbang menuju obyek wisata Pangandaran. Agar tidak terjebak antrian panjang, kami memilih jalan alternatif.

Setelah memasuki perkampungan obyek wisata, kemacetan pun tak bisa dihindari. Jalan menuju ke pantai dipadati kendaraan para wisatawan. Sehingga laju kendaraan pun berjalan tersendat-sendat. Untuk memperlancar arus kendaraan petugas memberlakukan jalan satu arah. Semua kendaraan diarahkan menuju pantai timur.

Ketika kami tiba di pantai timur, di sepanjang jalan itu sudah dipenuhi jejeran kendaraan terparkir. Begitu pun di hotel-hotel dan rumah-rumah penginapan, sudah dipenuhi berbagai jenis mobil dan motor. Untuk parkir jenis truk, bus besar dan ukuran sedang ditempatkan di areal parkir pasar cenderamata. Sebagian di lapangan ujung tol pantai barat dan lapangan Tapang Doyong.

Saat itu mencari tempat parkir dibutuhkan kesabaran. Kami pun sekitar setengah jam baru mendapat tempat di dekat pintu masuk sebelah barat Cagar Alam. Tampak di sekitar pintu masuk ke Taman Wisata Alam Penanjung itu begitu ramai. Memang, di Pangandaran itu tidak identik dengan wisata pantai saja. Tetapi a­da juga spot menarik untuk di jelajah yaitu hutan lindung Cagar Alam dan satwa.

Keramaian juga terlihat di sepanjang pantai sebelah barat. Keceriaan para pengunjung pantai terlihat jelas. Mereka nampak asik bermain-main, ada yang berenang-renang, main bola, ada yang asik main pasir. Bahkan ada juga yang naik kuda dan lain-lain. Mereka semua terlihat bersuka cita, dan hirau oleh panas pancaran sinar matahari.

Di tengah keramaian wisatawan, terlihat para petugas penjaga pantai terlihat hilir mudik. Mengawasi pengunjung yang sedang berenang. Sekali-kali terdengar melalui pengeras suara. Megingatkan agar berenang tidak melebihi batas yang sudah ditentukan karena berbahaya. Ada batas zona aman bagi yang berenang. Ditandai dengan pelampung bendera merah di sepanjang pantai, baik di pantai timur maupun barat.

Di antara keramaian pengunjung itu berjejer beberapa perahu-perahu nelayan. Rupanya sebagian nelayan di Pangandaran ketika ramai wisatawan, tidak melaut menangkap ikan. Mereka memilih mengais rezeki sebagai jasa antarjemput penumpang. Yaitu mengantar para wisatawan yang ingin melihat pemandangan kehidupan bawah laut. Seperti melihat-lihat ikan hias, melihat taman karang laut. Atau menyeberang ke pantai pasir putih di Cagar Alam untuk melihat monumen kapal illegal fishing.

Adapun untuk ongkos naik perahu cukup Rp 10,000,-/orang pulang pergi. Kapasitas setiap perahu-perahu dibatasi hanya mengangkut 10 orang, tidak boleh lebih. Karena jika lebih dari sepuluh orang bisa berbahaya.


Setelah adanya kapal illegal fishing yang didamparkan di laut Pangandaran. Dan gencarnya pemberitaan media tentang kapal kontoversi itu. Banyak pengunjung pantai yang penasaran ingin melihat kapal itu dari dekat. Hal itu sekaligus menambah daya tarik tersendiri. Tentu keadaan ini secara tidak langsung menambah ‘panen’ bagi tukang perahu untuk antarjemput. Tidak aneh ketika itu, di laut Pangandaran ramai oleh hilir mudik perahu-perahu mengangkut wisatawan.

Dan kami juga ikut menyeberang ke pantai pasir putih di Cagar Alam. Kebetulan pada waktu itu kondisi air laut sedang surut. Sehingga pantai di pasir putih sebagian menjadi kering, bisa untuk jalan kaki. Keadaan demikian memudahkan para pengunjung menghampiri kapal itu lebih dekat. Padahal kalau air laut sedang pasang untuk menjangkau ke kapal FV Viking harus  dari atas perahu.
Karena kapal mudah dijangkau,  banyak juga pengunjung yang nekad naik ke atas kapal itu. Melalui dua buah tambang yang menjulur ke bawah. Setelah berada di atas kapal, mereka manfaatkan untuk berfoto ria atau berswafoto (selfie). Padahal di dinding kapal itu sudah ada sebuah spanduk berisi himbauan: dilarangan menaiki kapal berbahaya, begitu isinya. Tetapi tetap saja banyak yang hirau dan mengabaikan peringatan itu.

Menurut beberapa sumber, kapal FV. Viking berbendera Nigeria itu diketahui sudah menjadi buronan Norwegia, negara yang memproduksi kapal tersebut. Status buronan tersebut ditetapkan Norwegia sejak 2013, atau sejak kapal tersebut diketahui melakukan aksi illegal fishing. Dan kapal itu telah menjadi buronan dari 13 negara bertahun-tahun. Kapal penangkap ikan itu juga tercatat sudah 13 kali ganti nama, 12 kali ganti bendera, dan 8 kali ganti call sign.

Setelah ditangkap pada 26 Februari 2016 di Tanjung Berakit, Kabupaten Bintan, Provinsi Riau. Kini kapal berbobot 1.322 gross tonnage (GT) itu, oleh satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan Secara Ilegal, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kapal itu dijadikan monumen illegal fishing di pantai barat Cagar Alam Pangandaran. Ini merupakan sebuah pembuktian kepada dunia Internasional.  Bahwa Indonesia serius memberantas pencurian ikan di perairan Indonesia. Komitmen ini ditegaskan Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.


Sementara hari semakin sore, para pengunjung pantai terlihat masih saja ramai. Sekitar pukul 5.00 WIB sore, kami memutuskan untuk pulang. Tetapi untuk kembali pulang, kami harus bersabar menunggu. Karena perahu yang tadi mengantarkan kami masih sibuk mengantarjemput penumpang lain.

Ketika sedang asik menunggu perahu jemputan. Saya menyimak obrolan tukang perahu dengan seorang perempuan, tidak jauh dari tempat saya berdiri. Keduanya membicarakan masalah batu-batu yang akan dibawa oleh perempuan itu. Ada salah satu perkataan si Abang perahu yang cukup menarik.


“Maaf Mba, batu-batu itu nggak boleh dibawa pulang nanti bisa kesurupan. Kemarin ada orang dari Bandung kesurupan setelah mengambil batu dari sini,” kata si Abang tukang perahu kepada perempuan setengah baya itu.
Perkataan tukang perahu yang berbau klenik itu cukup menggelitik. Apa benar batu karang itu bisa menyebabkan kesurupan? Tidak tahu pasti. Menurut saya si Abang perahu itu cukup bijak, ambil sisi positifnya saja. Itu bagus juga, agar tempat-tempat wisata dimanapun tidak dirusak oleh tangan-tangan iseng oknum wisatawan. Sebab prilaku tidak elok itu lama kelamaan bisa menyebabkan kerusakan lingkungan dan keindahan obyek wisata itu sendiri.

Sebuah pembelajaran dari tukang perahu. Secara tidak langsung sudah menjaga lingkungan dengan caranya sendiri.

Dan tidak berapa lama perahu penjemput pun datang, akhirnya kami bisa pulang. Meninggalkan bangkai kapal yang sudah berkarat itu, sebagai monumen illegal fishing di laut Pangandaran.

Saturday, 26 November 2016

Cara melayout Halaman di InDesign Cs 6


Menyambung tulisan lalu, tentang cara membuat halaman layout di InDesign Cs 6. Nah, sekarang mari kita lanjutkan. Yaitu bagaimana cara mengisi halaman kosong dengan teks dan gambar. Sekaligus melayout atau mendisain halaman itu agar enak dilihat.

Dan tentunya Anda sudah pula mengenal fungsi Tools di InDesig Cs 6, tulisannya pernah dimuat sebelumnya. Untuk latihan, siapkan sebuah file tulisan teks dari Microsoft Word (sembarang saja boleh). Siapkan juga sebuah foto atau gambar apa saja.   

Untuk memudahkan pencarian. Simpan file teks dan gambar itu ke dalam satu folder (beri nama file: LATIHAN). Jika sudah siap, langsung saja buka sofware InDesign Cs 6. Selanjutnya anggap saja sebuah halaman di InDesign sudah tersedia seperti pada gambar di bawah. Ikuti langkah berikut ini:

Cara mengambil file teks dan gambar
1. Arahkan panah atau kursor ke atas menu, klik file. Terus sorot ke bawah cari tulisan Place (ctrl+D) (lihat gambar-1). Maka akan muncul dialog box, seperti pada gambar-2. Silakan cari file naskah dan gambar yang sudah disiapkan tadi.

gambar-1

gambar-2 


2. Kemudian geser panah ke dialog box, di gambar-2 tadi. Cari file teks dan klik. Maka akan muncul tanda panah berisi teks (lihat gambar-3). Selanjutnya drag kursor ke lajur kolom dan langsung tarik ke ujung batas areal kerja halaman. Agar ketika mengubah huruf bisa leluasa, seperi terlihat pada gambar-4.


gambar-3
gambar-4


3. Lalu bagaimana cara mengambil gambar/foto? Sama saja seperti cara mengambil teks. Tinggal pilih file gambar, lalu klik. Hasilnya lihat pada gambar-5 di bawah ini. Setelah teks dan gambar tersedia, maka siap untuk diolah.




gambar-5 

4. Langkah berikutnya, cara mengubah kolom teks. Dari satu kolom menjadi 3 kolom. Perhatikan lingkaran warna merah di gambar-6. Terdapat angka 3, adalah menunjukkan jumlah kolom. Sedangkan angka 5 untuk jarak antar kolom. Angka-angka itu dapat diubah sesuai kebutuhan.


gambar-6

5. Jika melihat di gambar-6 di atas. Teks itu tertutup oleh gambar, maka harus dipisahkan. Caranya, arahkan tulisan Text Wrap. Lihat lingkaran merah di gambar-7 di bawah ini. Text Wrap, berfungsi untuk memisahkan antara teks dan gambar. Besaran jarak dapat disesuaikan kebutuhan disain.


gambar-7 

6. Berikutnya, ubah ukuran huruf judul dan tauching-nya disesuaikan dengan kebutuhan. Maka akan terlihat seperti pada gambar-8, sebuah contoh layout halaman majalah sederhana.


gambar-8 

Sampai di sini dulu tulisan singkat ini. Mudah-mudahan dapat dimengerti dan dipahami, selamat mencoba. Semoga bermanfaat.